Preparing Or Predicting

 

The best preparation for tomorrow is to do today’s work superbly well.
William Osler

 

Kenyataannya, preparing is not predicting. Beberapa orang mungkin agak sulit membedakannya, menganggapnya hanyalah dua sisi dari satu koin yang sama. Bukankah kita mempersiapkan apa yang bisa kita prediksi? Walau sepintas nampak sama, namun antara persiapan dan prediksi mempunyai maksud yang berbeda.

Persiapan adalah untuk sesuatu yang mungkin akan terjadi di waktu yang tidak dapat kita pastikan, sementara prediksi adalah untuk sesuatu yang mungkin akan terjadi di waktu dekat (waktu kejadiannya jelas).

Ketika seorang menuliskan rencana portofolionya ketika pasar sedang bearish bukan berarti dia memprediksi bahwa pasar akan anjlok. Dia hanya melakukan persiapan. Begini, kenapa tiap terbang kita diberikan peragaan penyelamatan diri oleh para pramugari/pramugara? Apa artinya nanti pesawat akan jatuh? Kenapa dilakukan pelatihan pertolongan pertama pada orang yang celaka? Apa artinya diprediksi bahwa bulan depan akan ada orang yang terkena musibah tersebut? Tidak kan, semua itu dilakukan hanya untuk bersiap-siap apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Karena kapan waktu tepat hal itu terjadi sulit untuk diketahui pasti.

Hey, kalau semua bisa diprediksi tepat 100% makan tidak mungkin terjadi economic bubble. Jadi penting sekali mempunyai plan b untuk portofoliomu ketika pasar sedang bearish. Apakah plan b tersebut artinya kita harus masuk ke 100% cash? Wooo, tunggu. Belum tentu, 100% cash ketika pasar sedang turun bukan artinya asetmu akan aman. Ingat inflasi kan? Lagian buat kamu yang suka menjadi contrarian pasar turun adalah saat ambil posisi. Harga-harga saham didiskon, namun perlu jeli dalam memilih kondisi fundamental perusahaam yang baik. Tapi jangan lupa juga portofolio gak melulu isinya saham dan cash. Ada aset jenis lain kan?

Setiap investor harus punya filosofi investasi mereka sendiri, yang tentunya berbeda satu sama lain. Pasif atau aktif? Value atau growth? Semua dikembalikan ke bagaimana cara investor tersebut mau mengelola asetnya. Ketika pasar bearish maka akan bergantung ke profil resiko kamu. Kalau kamu konservatif, tidak ada salahnya masuk ke 100% cash untuk menghindari depresiasi nilai aset kamu di pasar modal. Cari aman tidak ada salahnya toh. Atau kalau kamu memang tipe agresif dan punya time horizon investasi yang cukup panjang maka bisa jadi ini saat kamu cari saham diskonan. Atau mungkin bisa gabungan dari keduanya. Atau mungkin gabungan dari keduanya, buang saham-saham yang overvalue dari portofolio kamu dan tetap pegang saham yang kondisinya masih membuatnya layak dikoleksi.

Semua investor harus punya rencana stategis portofolionya ketika hal yang tidak diharapkan terjadi di pasar. Jangan jadi investor reaktif yang berpandangan gimana nanti aja, karena ketika terjadi sudah pasti kamu ketinggalan ambil posisi. Apalagi mengingat return year-to-date IHSG sudah hampir 10%. Karena waktu terbaik untuk persiapan perang adalah ketika sedang kondisi damai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s