Inovasi Disruptif: Kenapa Perusahaan Mapan Seperti Buta

inovasi-disruptif

Salah satu pola yang paling sering terjadi pada perusahaan yang sudah mapan adalah dia seringkali gagal menyadari perubahan pasar dan teknologi pada industrinya. Pernah dengar Wang Laboratories atau Digital Equipment Corporation? Generasi sekarang hampir pasti tidak tau siapa mereka, padahal di tahun 70/80 mereka adalah raja di pasar komputer. Mereka mulai meredup di tahun 90an, digantikan nama baru seperti Apple dan Dell. Pertanyaannya kenapa bisa? Apakah manajemennya inkompeten?
Inkompeten atau tidaknya manajemen di perusahaan tersebut tidak bisa dibilang ya atau tidak secara pasti. Karena manajemen ini juga yang membawa mereka ke masa kejayaannya. Karena berbagai sebab mereka gagal beradaptasi dengan disruptive innovation. Hal yang terjadi ini bisa dijelaskan dari kerangka pikir disruptive innovation dari Clayton Christensen.

 

Overserved Market

Untuk dapat terus bersaing perusahan mapan harus terus melakukan inovasi pada produk atau layanannya. Inovasi ini disebut sustaining innovation, karena digerakan oleh tuntutan bersaing. Misalkan dalam industri musik contoh sustaining innovation adalah perubahan dari kaset tape menjadi CD. Feature dan kualitas dari produk tawarannya meningkat sejalan dengan inovasi tersebut. Musik di CD lebih jernih dari musik di kaset, dapat memuat lebih banyak lagu, dll. Hal ini juga memberikan kesempatan pada perusahaan perusahaan recording mengambil margin yang lebih besar atas penjualannya.
Namun sayangnya perkembangan sustaining innovation yang dilakukan perusahaan lajunya jauh lebih cepat ketimbang kebutuhan pasar yang riil. Mayoritas penikmat musik tidak butuh kualitas musik yang lebih jernih dan jumlah lagu yang lebih banyak. Hal ini menyebabkan adanya gap antara performa produk yang ditawarkan dan keinginan pasar. Hal ini memberikan celah bagi pada inovator untuk memberikan produk yang lebih sesuai dengan keinginan pasar.

di1-v2

 

Innovation Typically Offer Inferior Products

Lalu timbul produk inovasi baru. Misal jika diambil contoh dalam industri musik timbul file mp3. Pada saat baru muncul kualitas mp3 (1993) sangat inferior dibanding CD, kualitas suaranya jauh lebih buruk. Performa mp3 masih berada di bawah performa musik yang diinginkan pasar.
Jika pada saat itu kamu menjadi manajer perusahaan recording maka kamu akan dihadapkan pada dua pilihan investasi. Apakah perusahaan lebih baik berinvestasi di produk yang diinginkan existing customer dan memiliki margin besar (CD), atau berinvestasi di produk yang tidak diinginkan existing customer dan berpotensi menggerogoti produk utamamu (mp3)? Sudah jelas pilihan pertama adalah yang paling tepat. Kamu sebagai pemimpin perusahaan tidak ingin membuang uang berinvestasi di produk dengan kualitas buruk dan memiliki potensi memakan margin penjualannmu.

di2-v2

 

Disruptor Rarely Stay Where They Start

Walapun di tahun 1993 mp3 memiliki kualitas buruk dan tidak diterima mayoritas pasar. Namun seiring dengan perkembangan kualitasnya makin baik dan ukuran kompresinya makin efisien. Sehingga lama kelamaan mayoritas pasar dapat menerima performanya. Selain itu inovasi dalam distribusinya seperti layanan download musik satuan (iTunes) dan layanan streaming musik (Spotify) makin membuat inovasi ini diadopsi pasar musik.
Percepatan inovasi pada disruptor lebih cepat daripada sustaining innovation yang dilakukan oleh perusahaan mapan. Sehingga format produk baru tersebut lama kelamaan malah dapat melampaui format produk yang lama. Hal ini membuat pasar perusahaan yang sudah mapan tersebut menjadi tergerus karena disruptive innovation.

di3-v2

Apakah manajemen perusahaan salah mengambil keputusan? Belum tentu, karena di masa lalu pilihan yang diambil sangatlah jelas bahwa perusahaan lebih baik berinvestasi di produk yang sudah pasti digunakan existing customer (saat itu) dan tidak berpotensi menggerus marginnya. Untuk menghadapi pasar dan teknologi yang cepat berubah sebaiknya pemimpin perusahaan mempunyai pola pikir baru seperti transformative vision, forward thinker, dan change oriented agar dapat lebih cepat berdaptasi pada perubahan tersebut.

 

Referensi:

https://hbr.org/2015/12/what-is-disruptive-innovation
https://www.interaction-design.org/literature/book/the-encyclopedia-of-human-computer-interaction-2nd-ed/disruptive-innovation
http://www.claytonchristensen.com/key-concepts/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s