Memahami Biaya Modal Suatu Perusahaan

biaya-modal

Setiap perusahaan yang ada di seluruh dunia cuma punya 2 sumber modal yaitu utang (debt) dan modal sendiri (equity). Misal Pak Riko ingin mendirikan perusahaan percetakan kemasan, setelah melakukan studi ternyata modal yang dibutuhkan adalah sebesar 1,5 milyar. Namun sayangnya dia hanya punya uang sebesar 1 milyar, maka dia memutuskan meminjam 500 juta di bank. Dengan begini terkumpul sudah modal untuk membangun perusahaan tersebut sebesar 1,5 milyar.

Dari kejadian tersebut dapat dikatakan struktur modal perusahaan memiliki komposisi 500 juta debt (33%) dan 1 milyar equity (66%). Perlu diingat ketika perusahaan beroperasi dia bisa saja membutuhkan tambahan modal baik dari debt maupun dari equity, jadi bisa saja komposisi modalnya berubah. Tetapi biasanya setiap perusahaan punya target atas perbandingan debt dan equity.

Modal-modal tersebut tidak didapat begitu saja. Ada biaya yang harus dibayar oleh perusahaan untuk mendapatkan modal tersebut. Untuk debt jelas ketika perusahaan meminjam uang maka pasti dia akan dibebani bunga. Sedangkan untuk equity biayanya memang tidak tertulis jelas, namun ketika Pak Riko menaruh modalnya sebesar 1 milyar pasti dia mempunyai harapan bahwa uangnya tersebut akan berkembang setelah dialkolasikan untuk modal perusahaannya. Tingkat pengembalian harapan Pak Riko tersebutlah yang disebut sebagai biaya equity.

 

Cost of Debt

Adalah biaya yang harus dibayarkan oleh perusahaan ketika berhutang ke pihak lainnya. Perlu diketahui perusahaan bukan hanya bisa berhutang ke bank, namun dia juga bisa menerbitkan surat utang (bond) yang bisa langsung dijual ke masyarakat. Ketika berhutang ke bank perusahaan harus membayar bunga dan ketika menerbitkan surat utang perusahaan harus membayar kupon.

Ketika bank menentukan tingkat bunga yang dikenakan para perusahaan ada beberapa hal yang biasanya dipertimbangkan. Bank akan menggunakan resiko kredit dalam menentukan bunganya, resiko kredit adalah probabilitas bahwa perusahaan tersebut tidak mampu melunasi hutangnya. Ketika perusahaan mempunyai jumlah hutang yang besar maka resiko kreditnya akan naik, jika perusahaan tidak punya aset jaminan maka resiko kreditnya akan naik juga. Semakin tinggi resiko kredit maka akan semakin tinggi juga bunga yang dikenakan.

Kemudian apakah biaya dari debt itu hanya murni dari bunga? Harus diingat bahwa utang mempunyai efek pengurang pajak, karena utang adalah salah satu komponen pengurang pendapatan bersih yang akan dikenai pajak. Maka dari itu perlu diperhatikan juga tingkat pajaknya (Indonesia: 25%) dalam menyatakan biaya debt suatu perusahaan.

Maka dari itu cara menghitu cost of debt setelah pajak suatu perusahaan adalah sebagai berikut:

Cost of Debt After Tax = Bunga Pinjaman x (1 – Tax Rate)

Misal Pak Riko dibebani bunga 7% atas utang modalnya ketika mendirikan perusahaan, kemudian diketahui bahwa tax rate di Indonesia adalah 25%. Maka cost of debt-nya adalah sebesar 7% x (1 – 25%) = 5,25%.

 

Cost of Equity

Berbeda dengan cost of debt yang secara nyata besarannya tertulis di atas kertas, cost of equity sifatnya lebih abstrak. Namun dapat dikatakan cost of equity adalah tingkat pengembalian minimal yang diharapkan pemberi modal atas modalnya yang telah diinvestasikan. Dalam kaskus Pak Riko maka cost of equity adalah tingkat pengembalian harapn Pak Riko atas 1 milyar modal yang telah ditaruhnya di perusahaan.

Normalnya cost of equity suatu perusahaan pasti lebih besar dari cost of debt-nya. Hal ini karena pengembalian dari modal sendiri lebih beresiko dari pengembalian modal utang. Pada modal utang, baik keadaan perusahaan rugi atau untung cicilan utang harus terus dibayar. Sedangkan pada equity sifat pengembaliannya adalah residual, yang berarti perusahaan akan memberikan tingkat pengembalian dalam bentuk dividen hanya jika ada uang lebih setelah perusahaan membayarkan semua kewajiban-kewajibannya (gaji pegawai, sewa gedung, pajak, utang, dll). Maka otomatis jika perusahaan rugi pemilik equity tidak akan mendapatkan apa-apa.

Walaupun cost of equity sifatnya abstrak ada beberapa model yang bisa digunakan untuk menentukan besarannya. Model yang paling banyak digunakan adalah Capital Asset Pricing Model (CAPM). Model CAPM tersebut adalah sebagai berikut:

Cost of Equity = RF + β x (RM – RF)

RF adalah risk free rate  atau tingkat pengembalian aset bebas resiko. Apa itu aset bebas resiko? Aset bebas resiko adalah aset yang tidak memiliki kemungkinan gagal bayar (atau paling tidak kecil). Jika konteksnya adalah Indonesia maka yang biasa digunakan adalah tingkat pengembalian dari Surat Utang Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

RM adalah expected market return atau tingkat pengembalian pasar. Yang dimaksud pasar di sini adalah pasar modal. Di tiap bursa pasti ada suatu indeks yang menggambarkan pergerakan pasar modal secara keseluruhan. Jika konteksnya Indonesia maka indeks yang digunakan adalah IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Jadi RM pada Indonesia adalah tingkat pengembalian dari IHSG.

β (baca: beta) adalah ukuran volatilitas suatu perusahaan di pasar. Jika β adalah sebesar 1,5 maka dapat diartikan jika IHSG naik 1% maka saham perusahaan tersebut juga akan naik 1,5%, jika IHSG turun 1% maka saham perusahaan tersebut akan turun sebesar 1,5%. β didapat dari persamaan regresi namun kamu dapat melihatnya langsung di yahoo finance atau investing.com.

Jika misal coupon rate Surat Utang Negara adalah sebesar 6%, tahun lalu IHSG memiliki tingkat pengembalian 11%, dan beta perusahaan Pak Riko adalah 1,2. Maka jika menggunakan model CAPM dapat dikatakan cost of equity Pak Riko adalah 6% + 1,2 x (11% – 6%) = 12%.

 

Cost of Capital

Walaupun sudah diketahui cost of debt dan cost of equity namun biaya modal secara keseluruhan belum diketahui. Untuk itu perlu digabungkan antara cost of debt dan cost of equity untuk mendapatkan cost of capital-nya. WACC (Weighted Average Cost of Capital) adalah rumus yang digunakan untuk mendapatkan cost of capital secara keseluruhan. Rumus WACC adalah:

WACC = (Komposisi Equity x Cost of Equity) + (Komposisi Debt x Cost of Debt After Tax)

Dalam kasus Pak Riko diketahui bahwa komposisi modalnya adalah 1 milyar dari Pak Riko dan 500 juta dari utang bank. Maka komposisi modalnya adalah 66% equity dan 33% debt. Sedangkan cost of debt after tax-nya adalah sebesar 5,25% dan cost of equity-nya adalah 12%. Maka dari itu WACC perusahaan Pak Riko adalah sebesar (66% x 12%) + (33% x 5,25%) = 9,65%.

 

Sebuah perusahaan akan menguntungkan jika tingkat pengembaliannya ada diatas cost of capital-nya. Jadi perusahaan akan berusaha untuk mendapatkan tingkat pengembalian dari modalnya paling tidak sama dengan tingkat WACC-nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s