Belajar Menjomblo Produktif Dari Bung Hatta

hatta jomblo produktif

Siapa sangka Om berkacamata yang digadang-gadang sebagai bapak bangsa Indonesia ini adalah seorang jomblo 43 tahun. Kelakuan Bung Hatta kalau sedang dekat perempuan rada-rada canggung, berbeda 180 derajat dengan partnernya Bung Karno yang womanizer banget. Pernah ada cerita bahwa teman-teman Hatta menyuruh seorang perempuan Polandia menggodanya ketika dia tinggal di Belanda. Alhasil ketika kencannya selesai si perempuan cuma bisa bilang “Temanmu tidak bisa digoda”. Bapak satu ini teguh banget pendiriannya, kalau enggak yang enggak kalau belum ya belum.

Bapak alim ini bukan tanpa alasan menjomblo 43 tahun. Dia punya janji ke dirinya sendiri kalau tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Jomblonya karena ideologi, beda sama orang alim masa kini yang pengen cepet-cepet nikah supaya tidak zinah. Sebuah pilihan menjomblo yang patut dikagumi, pria masa kini mana sekarang yang tahan menjalani pilihan hidup seperti ini?

Untungnya Hatta adalah seorang jomblo yang produktif. Waktu senggang jomblonya dia pakai buat baca, belajar, dan berdiskusi beda sama jomblo ngenes masa sekarang yang sibuk ngepoin mantan dan meratapi nasib di pojok ruangan. Mana mungkin dia punya waktu ikut andil dalam konferensi menentang imperialsime dan mengasuh Hindia Putera. Mungkin kalau Bung yang satu ini bukan seorang jomblo waktunya akan habis buat nentengin belanja pacarnya dan mentalnya akan lelah karena menghadapi pacarnya yang lagi ngambek.

Pria yang sering dianggap sombong karena keseringan menghabiskan waktu di kamar membaca buku ini akhirnya mengakhiri kejombloannya tepat 3 bulan setelah Indonesia merderka, tepatnya 18 November 1945. Dia menikahi Rahmi ‘gadis tercantik se-bandung’ yang masih berusia 19 tahun waktu itu. Mungkin kesannya kayak om-om yang cari daun mudah yah, tapi percaya deh Hatta bukan tipe orang yang seperti itu. Walaupun dia baru kenal dengan Rahmi beberapa bulan sebelum menikahinya, tapi rasa sayangnya ngalahin orang yang sudah kenal puluhan tahun. Tiap mereka pergi berdua naik mobil Hatta selalu memperhatikan arah matahari dan tanpa bicara dia duduk di sisi itu. Merelakan badannya sebagai penghalang matahari supaya Rahmi tidak terpapar sinar matahari langsung. Sebuah keromantisan sederhana yang dilakukan seorang pria introvert, buai dan rayu mungkin memang bukan keahliannya. Hanya perhatian-perhatian sederhana yang mengena yang bisa dia lakukan.

Indonesia bukanlah Indonesia yang sekarang kalau seorang Hatta tidak merelakan 43 pertama hidupnya untuk bangsa ini. Kapasitas inteleknya tidak akan terasah jikalau masa-masa awal hidupnya tidak dia habiskan untuk membaca buku-bukunya yang sebanyak 6 peti. Akhir kata saya cuma mau ngingetin kalau negara ini diproklamirkan oleh seorang jomblo 43 tahun (0,43 abad broooo). Mungkin kapasitas kita jauh dengan Bung ini, tapi tentunya ada banyak hal yang bisa kita contoh dari seorang pria gentle ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s