The Myth of Workaholic

image

Workaholic, dari luar ini kelihatannya sesuatu yang sangat mulia. Kerja di hari sabtu dan minggu tampaknya sangat berdedikasi. No amount of work is too much work.

Hmm, saya punya pandangan sedikit berbeda. Workaholic buka saja gak penting, tetapi bodoh. Bekerja lebih banyak bukan berarti lebih apik dan lebih banyak menyelesaikan masalah. Bekerja lebih banyak berarti bekerja dengan waktu lebih lama, that’s it.

Tolong pahami bedanya antara workaholic dan bekerja di luar jam kerja karena ada hal yang mendesak yah. Itu 2 hal yang sangat-sangat berbeda.

Workaholic mencoba mengkompensasi kemalasan intelektualnya dengan brute force, yang hanya mengahasilkan solusi yang murahan. Mereka ingin menjadi pahlawan, karena itu menciptakan masalahnya sendiri.

Mereka membuat orang yang bekerja tepat waktu merasa tidak cukup. Membuat moral rekan kerjanya turun.

Workaholic tidak menyelesaikan pekerjaan lebih banyak dari non-workaholic. Mereka mengklaim sebagai perfeksionis, tapi yang dilakukan sebenarnya hanya memperbaiki kesalah-kesalahan kecil yang tidak penting. Mereka bukan pahlawan, karena pahlawan yang sebenarnya sedang makan malam bersama keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s